Selasa, 04 Juli 2023

Teori Perkembangan Peserta Didik yang Perlu Guru Ketahui

 


Apa yang dimaksud dengan perkembangan peserta didik?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perkembangan adalah perihal berkembang, artinya yaitu mekar, terbuka, atau membentang: menjadi besar, luas, dan banyak, serta bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya. Sementara itu, Sementara itu, peserta didik dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses belajar yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

Sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial, peserta didik mengalami perkembangan. Dengan begitu, dapat kita pahami, bahwa yang dimaksud dengan perkembangan peserta didik adalah perihal berkembangnya peserta didik melalui proses pembelajaran berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan yang ditempuh.

Apa yang dimaksud dengan perkembangan peserta didik menurut para ahli?

Sementara itu, para pakar di bidang psikologi dan ilmu pendidikan, sampai kini tidak memiliki kesatuan pandangan dalam memberikan definisi atau pengertian mengenai perkembangan. Ada yang beranggapan sama, ada pula yang berbeda pendapat. Berikut beberapa definisi perkembangan menurut para ahli dari berbagai sumber.

Werner (1969) dalam Monks, dkk (1999) menyatakan bahwa perkembangan merujuk pada suatu proses perubahan yang bersifat tetap, menjadi lebih sempurna, dan tidak dapat diulang kembali.

Schneirla (1975) dalam Sunarto dan Hartono (1999: 38) mendefinisikan perkembangan (development) adalah perubahan-perubahan progresif dalam organisasi organisme, dan organisme ini dilihat sebagai sistem fungsional serta adaptif sepanjang hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut meliputi dua faktor, yakni kematangan dan pengalaman.

Libert, Paulus, dan Strauss dalam Gunarsa (1990: 31) mengartikan, bahwa perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan.

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan hanya perubahan organ-organ jasmaniahnya saja. Kemudian, dalam kaitannya dengan peserta didik, maka pengertian perkembangan peserta didik merupakan perubahan yang progresif dan kontinu (berkesinambungan) untuk menjadi lebih sempurna (mencapai kematangan dan pengalaman) melalui interaksi dengan lingkungan (pendidikan).

Apa itu teori perkembangan peserta didik?

Teori perkembangan merupakan teori yang dapat memberikan kerangka kerja untuk berfikir tentang pertumbuhan dan pembelajaran manusia. Demikian, teori perkembangan peserta didik adalah teori yang dapat memberikan Bapak dan Ibu Guru sebuah kerangka berpikir/konsep untuk menentukan pembelajaran apa yang cocok digunakan agar membantu perkembangan peserta didik, serta sesuai dengan tujuan pendidikan.

Apa saja teori perkembangan peserta didik?

Dalam memahami materi perkembangan peserta didik, sebenarnya banyak teori yang mendasarinya. Namun, dari berbagai teori tersebut hanya ada beberapa teori perkembangan peserta didik yang disetujui dan digunakan oleh Kemendikbud dalam pembelajaran untuk para calon guru. Adapun teori utama yang harus Bapak dan Ibu Guru pahami adalah:

Teori Perkembangan Psikoanalisis

Di bagian ini yang menjadi fokus adalah teori perkembangan psikoseksual dari Freud dan teori perkembangan psikososial Erik Erikson. Masing-masing merupakan stage theory yang memahami perkembangan anak melalui periode-periode kehidupan yang berbeda. Masing-masing teori menunjukkan, bahwa berbagai pengalaman anak selama tahap-tahap awal dapat mempengaruhi kehidupan emosional serta sosial anak pada masa tersebut dan masa sesudahnya.

1.    Teori Perkembangan Psikoseksual Freud (Freud’s Psychosexual Developmental Theory)

Teori Freud ini berfokus pada perkembangan emosional dan sosial dari anak-anak, serta asal-mula unsur-unsur kepribadian psikologis, seperti ketergantungan, kerapian obsesif, dan kesombongan. Menurut Freud, masa kanak-kanak memiliki lima tahap perkembangan psikoseksual, antara lain: oral, anal, falik, latensi, dan genital.

Jika seorang anak menerima terlalu sedikit atau terlalu banyak gratifikasi dalam satu tahap, maka anak dapat terfiksasi di tahap tersebut. Misalnya, jika anak disapih terlalu dini, atau disusui terlalu lama, anak tersebut pun jadi hanya terpusat pada aktivitas oral, seperti menggigit kuku atau merokok, bahkan menunjukkan “lidah tajam” atau “mudah menggigit”.

2. Teori Perkembangan Psikososial Erikson (Erikson’s Psychosocial Developmental Theory)

Erik Erikson memodifikasi dan memperluas teori Freud. Teori Erikson juga sama seperti teori Freud, yaitu berfokus pada perkembangan kehidupan emosional dan unsur-unsur kepribadian psikologis. Akan tetapi, Erikson juga berfokus pada proses perkembangan dan identitas diri, serta berpendapat bahwa hubungan-hubungan sosial itu lebih penting daripada naluri seksual atau agresif.

Erikson (1963) memperluas tahap perkembangan Freud menjadi delapan untuk mencakup berubahnya perhatian di sepanjang masa dewasa. Daripada memberi istilah pada tahap-tahap setelah bagian-bagian dari tubuhnya, Erikson memberi label tahap-tahap setelah krisis kehidupan yang mungkin telah anak-anak (dan kemudian orang dewasa) temui selama tahap tersebut. 8 Tahap tersebut antara lain:

1.    Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)

  1. Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
  2. Inisiatif vs Kesalahan
  3. Kerajinan vs Inferioritas
  4. Identitas vs Kekacauan Identitas
  5. Keintiman vs Isolasi
  6. Generativitas vs Stagnasi
  7. Integritas vs Keputusasaan

 

Teori Perkembangan Behavioral (Behavioral Child Development Theories oleh John B. Watson dan B.F. Skinner)

John B. Watson dalam teorinya berpendapat, bahwa pendekatan ilmiah dalam perkembangan harus berfokus hanya pada perilaku yang bisa diamati, bukan seperti pemikiran, fantasi, dan gambaran mental yang lain.

Sementara B.F Skinner dalam teori perkembangan behavioral mengenalkan konsep penguatan (reinforcement). Hal-hal yang memperkuat adalah stimulus yang meningkatkan frekuensi perilaku yang anak ikuti.

Skinner membedakan antara penguat positif dan penguat negatif. Penguat positif akan meningkatkan frekuensi perilaku saat perilaku itu diterapkan. Contohnya, makanan dan persetujuan berperan sebagai penguat positif.

Sedangkan penguat negatif dapat meningkatkan frekuensi perilaku ketika perilaku ini disingkirkan. Ketakutan bisa bertindak sebagai penguat negatif, yaitu penyingkiran ketakutan, sehingga meningkatkan frekuensi perilaku yang mendahuluinya. Misalnya ketakutan akan kegagalan itu disingkirkan bila peserta didik belajar untuk ulangan.

Teori Perkembangan Kognitif Piaget (Piaget’s Cognitive Developmental Theory)

Teori Kognitif Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem saraf. Dengan semakin bertambahnya umur seseorang, maka semakin kompleks pula susunan sel sarafnya dan semakin meningkat pula kemampuannya.

Menurut Piaget, proses belajar setiap orang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan usia masing-masing. Bersifat hierarki, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu, dan seseorang tidaklah bisa belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. Piaget kemudian membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat, yaitu:

  1. Tahap Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
  2. Tahap Preoperasional (usia 2-7/8 tahun)
  3. Tahap Operasional Konkret (usia 7/8-11 atau 12 tahun)
  4. Tahap Operasional Formal

 

Teori Sosial Bandura (Bandura’s Social Learning Theory)

Bandura merumuskan sebuah teori pembelajaran observasional yang menyeluruh yang dia kembangkan untuk mencakup penguasaan, dan praktik dari bermacam-macam keterampilan, strategi dan perilaku. Prinsip-prinsip kognitif sosial telah diaplikasikan dalam pembelajaran kognitif, motorik, sosial, pengaturan diri, perkembangan moral, pendidikan, kesehatan, dan nilai sosial.

Teori Sosiokultural Vygotsky (Vygotsky’s Sociocultural Theory)

Dalam teorinya, Vygotsky menentang gagasan-gagasan Piaget mengenai bahasa dan pemikiran. Vygotsky menyatakan bahwa bahasa berbasis sosial, sementara Piaget menekankan pada percakapan anak-anak yang bersifat egosentris dan berorientasi non sosial.

Meskipun pada akhirnya anak-anak akan belajar dengan sendirinya, beberapa konsep melalui pengalaman sehari-hari. Vygotsky tetap percaya, bahwa anak akan jauh lebih maju dan berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan mengembangkan pemikiran operasional formal mereka, tanpa adanya bantuan orang lain. Apa saja aspek-aspek perkembangan peserta didik?

Mengutip Alex Sobu (2003) dalam bukunya yang berjudul Psikologi Umum, aspek-aspek perkembangan meliputi:

1.    - Perkembangan Fisik yang merupakan perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensorik dan keterampilan motorik kasar maupun halus. Perubahan pada tubuh/fisik ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, serta kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi.

2.    - Perkembangan Emosi yaitu meliputi perkembangan kemampuan anak untuk mulai mencintai; merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya.

3.   - Perkembangan Intelegensi/Kognitif merupakan perubahan kemampuan mental, seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Biasanya perkembangan ini terjadi pada peserta didik berusia remaja, yakni terjadinya interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi peserta didik dalam berpikir abstrak. Perkembangan kognitif yang terjadi pada peserta didik remaja dapat dilihat dari kemampuannya untuk berpikir lebih logis. Peserta didik pun sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan.


Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan peserta didik?

Persoalan mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan dijawab oleh para ahli dengan jawaban yang berbeda-beda. Para ahli tersebut pun terbagi ke dalam tiga aliran yang berbeda, yaitu aliran Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi.

Namun, dari pernyataan-pernyataan para ahli dari ketiga aliran tersebut pun dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan peserta didik adalah faktor internal dan faktor eksternal dari peserta didik itu sendiri. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan peserta didik, antara lain:

Faktor Internal

1. Inteligensi

Inteligensi merupakan faktor perkembangan yang terpenting. Seorang anak dapat dikatakan berkembang dengan cepat karena memiliki kecerdasan yang tinggi. Namun sebaliknya, anak akan mengalami keterbelakangan dalam perkembangan sebab kecerdasannya rendah.

2. Hormon

Anak perempuan pada umumnya lebih cepat mencapai kematangan dan mengalami perkembangan hormon, kira-kira satu atau dua tahun lebih awal dan fisiknya juga tampak lebih cepat besar dari pada anak laki-laki. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada anak usia 9 sampai 12 tahun.

3. Kelenjar-Kelenjar

Hasil penelitian di lapangan endokrinologi (kelenjar buntu) menunjukkan adanya peranan penting dari kelenjar-kelenjar buntu sementara ini dalam pertumbuhan jasmani dan rohani. Pengaruhnya sangatlah jelas terhadap perkembangan anak sebelum dan sesudah dilahirkan.

4. Posisi dalam keluarga

Posisi (kedudukan) anak dalam keluarga merupakan keadaan yang juga sangat mempengaruhi perkembangan. Anak kedua, ketiga, dan sebagainya, umumnya mengalami perkembangan yang lebih cepat dari anak pertama. Kemudian, anak bungsu biasanya karena dimanja, maka perkembangannya bisa jadi lebih lambat. Dalam hal ini, anak tunggal biasanya mengalami perkembangan mentalitas yang lebih cepat, karena pengaruh pergaulan dengan orang-orang dewasa.

Faktor Eksternal

1. Makanan

Makanan merupakan faktor yang juga penting peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan. Bukan saja makanannya, tetapi isinya yang cukup banyak mengandung gizi, terdiri dari pelbagai vitamin. Kekurangan gizi/vitamin dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan seseorang.

2. Luka dan penyakit luar

Luka dan penyakit luar jelas memiliki pengaruh pada perkembangan, meskipun terkadang hanya sedikit dan hanya menyangkut perkembangan fisik saja.

3. Kultur (Budaya)

Pada dasarnya, setiap anak memiliki sifat yang universal dan budayanya lah yang kemudian merubah sejumlah dasar-dasar tingkah laku mereka dalam proses perkembangannya. Selain faktor budaya masyarakat, di dalamnya termasuk berasal dari pendidikan, agama, dan sebagainya.

4. Kebangsaan (Ras)

Ras yang menjadi gen seorang anak pun sangat berpengaruh pada perkembangannya. Sebab, setiap ras di seluruh dunia pun memiliki budaya dan lingkungan tempat tinggal yang berbeda-beda, begitu juga iklim yang mempengaruhi cara hidup masing-masing ras.

Bapak dan Ibu Guru dapat melihat contohnya melalui anak-anak ras Mediterania (Lautan tengah) yang tumbuh lebih cepat dari anak-anak Eropa Timur. Sementara itu, anak-anak Negro dan Indian pertumbuhannya tidak terlalu cepat dibandingkan dengan anak-anak kulit putih dan kuning langsat.

Bagaimana cara mengintegrasikan teori perkembangan peserta didik dalam pembelajaran?

Dalam mengintegrasikan teori-teori perkembangan yang sudah dibahas tadi dalam pembelajaran. Bapak dan Ibu Guru dapat menggunakan salah satu konsep yang dibuat oleh Bandura, yaitu model determinisme timbal-balik yang terdiri atas tiga faktor utama: perilaku, lingkungan dan orang/kognitif.

Faktor-faktor tersebut dapat berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran. Faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, faktor perilaku mempengaruhi lingkungan, faktor orang/kognitif mempengaruhi perilaku, dan seterusnya. Ketiga faktor tersebut pun sering berinteraksi.

Ketika seorang guru memberikan sebuah pelajaran kepada siswa di kelas, para siswa akan berpikir tentang apa yang dikatakan oleh gurunya (lingkungan mempengaruhi kognisi-sebuah faktor personal). Kemudian siswa yang tidak mengerti tentang penjelasan tertentu mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan (kognisi mempengaruhi perilaku).

Selanjutnya, guru mengulang penjelasannya pada poin tersebut (perilaku mempengaruhi lingkungan). Pada akhirnya guru memberi siswa tugas untuk diselesaikan (lingkungan mempengaruhi perilaku).

Selain itu, ada berbagai cara yang dapat Bapak dan Ibu Guru terapkan. Salah satunya adalah Bapak dan Ibu Guru harus memastikan instrument-instrumen yang digunakan untuk mengetahui perkembangan peserta didik dapat mencakup semua ranah perkembangan. Mengenal karakteristik peserta didik juga merupakan salah satu cara untuk mengetahui perkembangan siswa.


Teori Perkembangan Moral Kohlberg

 


Teori moral adalah sikap dan perilaku individu yang didasari oleh nilai nilai hukum yang berada di lingkungan tempat dia hidup. Jadi individu dapat dikatakan dapat memiliki teori moral adalah ketika individu sudah hidup dengan mentaati hukum hukum yang berlaku di tempat dia hidup.

Sedangkan menurut Lawrence Kohlberg, tahapan perkembangan teori moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya teori moral individu berdasarkan perkembangan penalaran teori moralnya. Teori perkembangan moral kohlberg yang dikemukakan oleh Psikolog Kohlberg menunjukan bahwa perbuatan moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal hal lain yang berhubungan dengan norma kebudayaan (Sunarto,2013:176).

Selain itu Psikolog Kohlberg juga menyelidiki struktur proses berpikir yang mendasari perilaku moral ( Moral Bahavior). Dalam perkembangannya Psikolog Kohlberg juga menyatakan adanya tingkat tingkat yang berlangsung sama pada setiap kebudayaan. Tingkat Teori perkembangan moral kohlberg

adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral individu dari segi proses penalaran yang mendasarinya bukan dari perbuatan moral. Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai stadium perkembangan dengan tingkat yang teridentifikasi yaitu dapat dijelaskan sebagai berikut.


Masa Moral Pre konvesional

Pada masa pertama ini, individu sangat tanggap terhadap aturan aturan budaya, misalnya aturan aturan baik atau buruk, salah atau benar, dsb. Individu akan mengaitkan aturan aturan tersebut sesuai dengan akibat yang akan dihadapi atas perbuatan yang dilakukan. Individu juga menilai aturan aturan tersebut berdasarkan kekuatan fisik dari yang menerapkan aturan aturan tersebut. Pada masa prekonvensional ini dibagi menjadi dua masa yaitu:

§  Masa Punishment and Obedience Orientation

Pada masa ini, secara umum individu menganggap bahwa konsekuensi yang ditimbulkan dari suatu perbuatan sangat menentukan baik buruknya suatu perbuatan yang dilakukan, tanpa melihat sisi individunya. Perbuatan perbuatan yang tidak diikuti dengan konsekuensi dari perbuatan tersebut, tidak dianggap sesuatu hal yang buruk.

§  Masa Instrumental Relativist Orientation atau Hedonistic Orientation

Pada masa ini, suatu perbuatan dikatakan benar apabila perbuatan tersebut mampu memenuhi kebutuhan untuk diri sendiri maupun individu lain, serta perbuatan tersebut tidak merugikan. Pada masa ini hubungan antar individu digambarkan sebagaimana hubungan timbal balik dan perbuatan terus terang yang menempati kedudukan yang cukup penting.

Masa Masa Konvensional

Pada masa perkembangan moral konvensional, memenuhi harapan keluarga, kelompok, masyarakat, maupun bangsanya merupakan suatu perbuatan yang terpuji. Perbuatan tersebut dilakukan tanpa harus mengaitkan dengan konsekuensi yang muncul, tetapi dibutuhkan perbuatan dan loyalitas yang sesuai dengan harapan harapan pribadi dan tertib sosial yang berlaku.

Pada masa ini, usaha individu untuk memperoleh, mendukung, dan mengakui keabsahan tertib sosial sangat ditekankan, serta usaha aktif untuk menjalin hubungan baik antara diri dengan individu lain maupun dengan kelompok di sekitarnya. Pada masa konvensional ini dibagi menjadi dua masa yaitu:

§  Masa Interpersonal Concordance atau Good Boy/ Good Girl Orientation

Pandangan individu pada masa ini, perbuatan yang bermoral adalah perbuatan yang menyenangkan, membantu, atau perbuatan yang diakui dan diterima oleh individu lain. Jadi, setiap individu akan berusaha untuk dapat menyenangkan individu lain untuk dapat dianggap bermoral.

§  Masa Law and Order Orientation

Pada masa ini, pandangan individu selalu mengarah pada otoritas, pemenuhan aturan aturan, dan juga upaya untuk memelihara tertib sosial. Perbuatan bermoral dianggap sebagai perbuatan yang mengarah pada pemenuhan kewajiban, penghormatan terhadap suatu otoritas, dan pemeliharaan tertib sosial yang diakui sebagai satu satunya tertib sosial yang ada.

Masa Masa Postkonvensional

Pada masa ketiga ini, terdapat usaha dalam diri individu untuk menentukan norma norma dan prinsip prinsip moral yang memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus mengaitkan dengan otoritas kelompok maupun individu dan terlepas dari hubungan individu dengan kelompok. Pada masa ketiga ini, di dalamnya mencakup dua masa perkembangan moral, yaitu:

§  Masa Social Contract, Legalistic Orientation

Masa ini merupakan masa kematangan moral yang cukup tinggi. Pada masa ini perbuatan yang dianggap bermoral merupakan perbuatan perbuatan yang mampu merefleksikan hak hak individu dan memenuhi ukuran ukuran yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh masyarakat luas. Individu yang berada pada masa ini menyadari perbedaan individu dan pendapat. Oleh karena itu, masa ini dianggap masa yang memungkinkan tercapainya musyawarah mufakat. Masa ini sangat memungkinkan individu melihat benar dan salah sebagai suatu hal yang berkaitan dengan norma norma dan pendapat pribadi individu. Pada masa ini, hukum atau aturan juga dapat dirubah jika dipandang hal tersebut lebih baik bagi masyarakat.

§  Masa Orientation of Universal Ethical Principles

Pada masa yang tertinggi ini, moral dipandang benar tidak harus dibatasi oleh hukum atau aturan dari kelompok sosial atau masyarakat. Tetapi, hal tersebut lebih dibatasi oleh kesadaran individu dengan dilandasi prinsip prinsip etis. Prinsip prinsip tersebut dianggap jauh lebih baik, lebih luas dan abstrak dan bisa mencakup prinsip prinsip umum seperti keadilan, persamaan HAM, dsb.

Tidak ada Karakter Tradisional

Dalam teorinya, Psikolog Kohlberg menolak konsep pendidikan norma/ karakter tradisional yang berdasarkan pada pemikiran bahwa ada seperangkat kebajikan seperti kejujuran, kesabaran, dsb yang menjadi landasan perilaku moral. Konsep tersebut dinorma tidak membimbing individu untuk memahami kebajikan mana yang sungguh baik untuk diikuti.

Oleh karena itu, Psikolog Kohlberg mengajukan pendekatan pendidikan norma dengan menggunakan pendekatan klasifikasi norma yang bertolak dari asumsi bahwa tidak ada satu satunya jawaban yang benar terhadap suatu persoalan moral, tetapi di dalamnya ada norma yang penting sebagai dasar berpikir dan bertindak.

Terdapat Kriteria Moral

Psikolog Kohlberg mengklaim bahwa teorinya (tentang perkembangan moral) tidak hanya menjadi psikologi tetapi juga “filsafat moral”. Teorinya ini menyatakan tidak hanya bertindak dalam fakta “melebihkan masa tertinggi dari pertimbangan (moral) mereka secara keseluruhan”, tetapi juga bahwa masa ini adalah “secara objektif dapat lebih baik atau lebih memadai” daripada masa sebelumnya “dengan kriteria moral yang pasti”.

 

 


KISI-KISI SELEKSI AKADEMIK PPG KEMENAG 2022

 



Berikut Kisi-kisi Seleksi Akademik Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kementerian Agama Tahun 2022

Mata pelajaran Biologi (SMA/MA)

















































Apa Itu Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS)?

 


Untuk sukses dalam menghadapi abad 21, dimana kehidupan di abad 21 akan lebih kompleks dan banyak tantangan bagi semua orang, maka Pendidikan kemudian dirancang supaya dapat menghasilkan kompetensi siswa meliputi yang menyeluruh, meliputi segala aspek, diantaranya aspek pengetahuan, keterampilan, serta sikap literat terhadap baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Guru diharapkan mampu menyusun hal-hal terkait Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi ini, diantaranya kisi-kisi soal HOTS, menyusun kartu soal HOTS dan dapat menyusun bank soal HOTS tersendiri untuk dipelajari oleh siswanya.

 

Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih melalui proses pembelajaran di dalam kelas. Agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.

Berawal dari pembelajaran di dalam kelas inilah peserta didik mulai mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS. Dengan demikian peserta didik akan terbiasa manakala harus menghadapi soal HOTS. Dalam penyusunan soalnya dapat menggunakan berbagai bentuk, misalnya pilihan ganda, uraian, benar-salah, melengkapi maupun jawaban singkat. Tentunya guru harus lebih kreatif dalam pemberian stimulusnya.

 

Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

 

Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan:

1.    mengetahui (knowing-C1),

2.    memahami (understanding-C2),

3.    menerapkan (aplying-C3),

4.    menganalisis (analyzing-C4),

5.    mengevaluasi (evaluating-C5), dan

6.    mengkreasi (creating-C6).

 

 

Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah:

1.    menganalisis (analyzing-C4),

2.    mengevaluasi (evaluating-C5), dan

3.    mengkreasi (creating-C6).

 

Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO. Sebagai contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja ‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

 

Langkah Penyusunan Soal HOTS

Untuk menulis butir soal HOTS, penulis soal dituntut untuk dapat menentukan perilaku yang hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan (stimulus) dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Selain itu uraian materi yang akan ditanyakan (yang menuntut penalaran tinggi) tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran. Oleh karena itu dalam penulisan soal HOTS, dibutuhkan penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis soal (kontruksi soal), dan kreativitas guru dalam memilih stimulus soal sesuai dengan situasi dan kondisi daerah di sekitar satuan pendidikan.Berikut dipaparkan langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS.

·         Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS

Terlebih dahulu guru-guru memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS.Tidak semua KD dapat dibuatkan model-model soal HOTS.Guru-guru secara mandiri atau melalui forum MGMP dapat melakukan analisis terhadap KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS.

·         Menyusun kisi-kisi soal

Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS bertujuan untuk membantu para guru dalam menulis butir soal HOTS. Secara umum, kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru dalam: (a) memilih KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS, (b) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, (c) merumuskan indikator soal, dan (d) menentukan level kognitif.

·         Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual

Stimulus yang digunakan hendaknya menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca.Dalam konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat.

·         Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal

Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS.Kaidah penulisan butir soal HOTS, agak berbeda dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.

·         Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban

Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.

Soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Soal HOTS pada konteks asesmen mengukur berbagai kemampuan.

·         Pertama, transfer satu konsep ke konsep lainnya.

·         Kedua, memproses dan menerapkan informasi.

·         Ketiga, mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda.

·         Keempat, menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah.

·         Kelima, menelaah ide dan informasi secara kritis.

Pada saat menyusun soal HOTS harus berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari atau kontekstual. Sehingga peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah. Melalui soal HOTS, peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply) dan mengintegrasikan (integrate) ilmu pengetahuan.

 


Sasaran dan Komposisi Soal Asesmen Kompetensi AKGTK Madrasah Tahun 2024 Sesuai Juknis Dirjen Pendis Nomor 1176 Tahun 2024

  Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor 1176 Tahun 2024 tentang petunjuk tekni...